Jumat, 01 April 2011

i
3 Votes
Quantcast

warsitocKalau ditanya siapa ilmuan yang menjadi idola saya saat ini, saya akan dengan mantap menjawab Dr. Warsito, M.Eng. Pertama kali mengenal dan bertemu beliau pada Seminar “Menyelamatkan Ekonomi Bangsa”, tanggal 17 April 2007 di Hotel Bidakara Jakarta. Tentang kapasitas beliau langsung saya ketahui dalam seminar tersebut, karena beliau tampil sebagai salah satu pembicara. Selain itu, juga beberapa tulisannya juga dimuat dalam makalah dan newsletter “Indie” yang dibagikan oleh panitia seminar. Terus terang sejak saat itu saya mengagumi beliau, apalagi setelah semakin mengenal beliau dari berbagai publikasi tentang profil beliau. Bahkan, saya berharap dan berdoa semoga bisa meneladani dan mengikuti jejak beliau atau setidaknya ada di antara anak cucu saya nantinya yang dapat mengikuti jejak beliau, menjadi ilmuan dan peneliti yang menghasilkan temuan yang berguna bagi kemajuan peradaban bumi.

Siapa sebenarnya DR. Warsito, M.Eng.? Tetap saja ketika saya bertanya kepada teman-teman ternyata sangat sedikit yang mengenal beliau. Mungkin memang ungkapan yang tepat bagi beliau adalah “dipuja di negeri orang, terasing di negeri sendiri”. Oleh karena itu, berikut ini saya sampaikan beberapa tulisan tentang beliau yang saya ambil masing-masing dari situs Blog Agus Sukarno Suryatmaja, Situs DPD PKS Tangerang, dan Tempo (Edisi. 44/XXXV/25 – 31 Desember 2006):

Dari Blog Agus Sukarno Suryatmaja (Oktober 2008)

warsitoaRubrik Tamu Kita Majalah UMMI No. 10/XIX Pebruari 2008, dengan judul DR. Warsito Peneliti Kelas Dunia yang Pantang Menyerah, membuat saya terhenyak ketika membaca sampai di paragraf : untuk teknologi yang disebut-sebut banyak kalangan sepantasnya mendapat Hadiah Nobel ini, Warsito menghabiskan waktu bertahun-tahun dimulai sejak lelaki kelahiran Karanganyar, 15 Mei 1967 ini, menjalani studi S1 Teknik Kimia awal 90-an di Universitas Shizuoka, Jepang. Warsito, Karanganyar dan Jepang, ketiga kata inilah yang “menyetrum” fikiran saya. Saya merasa kenal dekat dekat nama tersebut : Warsito, ya..hanya Warsito saja. Ketika SMA saya mempunyai teman namanya Warsito, anak desa yang sangat bersahaja (rumahnya di lereng G. Lawu, cukup jauh dari sekolah) tetapi mempunyai otak professor. Kami, teman sekelasnya biasa menyebut dia “professor” selain professor satunya lagi. Namanya Mujiyono, sekarang jadi dokter yang mumpuni.

Saya melanjutkan membaca artikel tersebut sampai habis, dan semakin yakin dia ini Warsito teman sekelas di IPA 3 dulu. Di sana ditulis, masa kecilnya penuh dengan keprihatinan sampai-sampai mengembala kambing sambil membaca dan belajar. Saya sangat percaya dengan kisah tersebut. Di foto-foto yang ada di majalah UMMI, Warsito yang sekarang berumur 41 tahun, tampil keren dan smart beda dengan sosok lugu Warsito di 21 tahun lalu. Saya tidak mengira sama sekali, bertemu dia meskipun lewat tulisan di majalah UMMI. Tidak bosan-bosannya saya pandangi foto dia bersama anak istrinya, yang kebetulan jadi cover majalah UMMI. Asli, saya semakin bangga dengan Warsito. Saya ceritakan siapa Warsito ini kepada anak-anak saya.

Hebat benar Warsito ini, sudah bergelar doctor, namanya begitu tersohor di manca negara karena penemuannya yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Selesai membaca penemuannya, saya melakukan browsing di internet dan benar, sebuah penemuan terbaru yang amat berguna bagi umat manusia.

Kenangan saya kembali ke tahun 1983 – 1986! Oh ya, jurusan saya waktu itu IPA, dimulai sejak klas 1 semester 2 (masuk ke IPA 3). Sampai dengan klas 3 teman sekelas saya tidak berubah, termasuk Warsito di dalamnya. Ketika kami di klas 1 sampai klas 2, IPA 3 terkenal paling “nakal”. Guru-guru sampai tobat mengajar di klas IPA 3. Maklum, ada si trouble maker : Sukir, namanya.

Ini contoh ulah Sukir, yang membuat resah sekolah : busi vespa milik guru olah raga kami, disumpal dengan plastik, otomatis ketika distart ya tidak bisa. Pernah juga, sepeda murid-murid yang diparkir di depan klas 2 IPS digembosin. Satu hal yang kompak kami lakukan, tetapi para guru tidak berkenan dengan perbuatan kami yaitu kami sangat hobby main bola tetapi main dengan taruhan. Seminggu bisa main bola 3 kali. Dan sering menangnya. Apa hubungan cerita kenakalan murid klas IPA 3 dengan Warsito? Dia sungguh anak yang santun, tidak pernah ikut-ikutan kepada kenakalan teman-temannya. Dalam bergaul pun dia sangat supel, suka mengajari kami mengerjakan PR matematika, fisika dan kimia.

Kenakalan kami hilang ketika masuk klas 3. Wali kelas kami, Pak Rahsananto (Alm) menasihati kami agar lebih giat belajar sebagai bekal masuk kuliah nanti. Beliau berpesan untuk menghentikan hobby main bola. Dan kami menuruti perintah beliau. Aneh bin ajaib, kami menjadi anak-anak yang manis (rupanya keinginan main bola ini kambuh kembali ketika saya dan teman-teman mengadakan reuni IPA 3, nanti akan saya ceritakan tersendiri). Masing-masing membentuk kelompok belajar. Para “professor” kami jadi pembimbing dan tempat bertanya semua soal pelajaran. Kelompok belajar saya ada 5 anak, yaitu saya, Didied, Siwi, Tarto, dan Teguh. Setiap pulang sekolah, belajar kelompok. Setiap hari!!! Tempat belajar bergilir, dan ibu-ibu kami selalu menyiapkan makanan kecil. Kumpulan soal-soal masuk perguruan tinggi negeri (PTN), mulai Proyek Perintis 1, Skalu dan Sipenmaru 1985 kami kuasai dan hapalkan.

Teman-teman di kelompok belajar lain pun demikian. Semua jadi anak manis. Nanti, ketika tes masuk PTN anak 3 IPA 3 dari 45 anak, 42 anak lolos Sipenmaru PTN termasuk Warsito, diterima di Teknik Kimia UGM. 3 anak lainnya, memilih berkarir setelah lulus SMA. Sukir memilih jadi bhayangkari negeri dan 2 teman perempuan saya lebih senang mengurus rumah tangganya, jadi ibu yang hebat.

Suatu ketika, di hari Sabtu kami diajak Warsito untuk menginap di rumahnya. Pulang sekolah kami (sepuluh anak, barangkali ada) ke rumah Warsito. Dari sekolah, naik colt (semacam angkot) sampai ke kota kecamatan Matesih. Dari kota kecamatan ke desa tempat tinggal Warsito, harus jalan kaki. Lumayan jauh. Sebenarnya dari kota kecamatan ke desa ada kendaraan, tetapi hari itu bukan hari pasaran (lima hari sekali, ada pasar hidup), maka terpaksa harus jalan kaki. Dan kami pun seperti napak tilas perjalanan Warsito, membayangkan beratnya perjalanan Warsito ke sekolah setiap hari pulang dan pergi.

Rumah Warsito sangat sederhana, orang tuanya begitu ramah menyambut kedatangan kami. Dia memperkenalkan para kambingnya kepada kami sambil memberi makan. Sore hari, kami diajak Warsito ke kamar mandinya di belakang rumah…. oh..ternyata lumayan jauh, melewati jalan setapak di tengah kebun. Kamar mandi itu adalah sungai! Tak habis-habisnya kami kagumi teman yang pintar ini. Fasilitas terbatas, tapi kok punya otak encer. Sampai rumah, nasi lengkap dengan sayur dan lauk yang masih panas sudah tersaji di atas balai-balai. Saya tidur nyenyak di rumah Warsito, udara pegunungan membuat semalaman tidak melepas selimut.

Pengalaman menginap semalam di rumah Warsito telah menginspirasi kami. Rajin belajar menjadi menu utama kegiatan kami sehari-hari. Saya masih berkomunikasi dengan Warsito sampai pertengahan tahun 1987, karena masih suka ketemu di kampus UGM. Dia juga memberitahu saya ketika dia akan ke Jepang, meninggalkan Teknik Kimia UGM. Saya pernah sekali mendapatkan surat balasannya dari Jepang, tapi surat kedua saya tidak dibalasnya, pasti karena dia sibuk sekali saat itu. Maka, putuslah komunikasi saya dengannya.

Dari Situs DPD PKS Tangerang (19 Februari 2009)

warsitobDR. WARSITO, M.Eng

Anggota Majelis Pertimbangan Pusat PKS

Caleg DPR-RI No Urut 3, Dapil Banten 3: Kab/Kota Tangerang

Ringkasan Profil

Warsito adalah salah satu dari “ 50 Tokoh” Revolusi Kaum Muda (Gatra, Edisi Khusus 2003), “10 yang Mengubah Indonesia” versi majalah Tempo (Edisi Khusus AKhir Tahun 2006) dan juga terpilih menjadi salah satu dari “100 Tokoh Kebangkitan Indonesia” versi Majalah Gatra (Mei, 2008).

Di dunia akademisi Internasional, Warsito dikenal sebagai pioneer dalam teknologi tomografi, yaitu teknologi untuk memindai berbagai macam obyek dari tubuh manusia, proses kimia, industri perminyakan, reactor nuklir hingga perut bumi. Penemuannya yang paling spektakuler adalah tomografi volumetric 4D yang dipatenkan di Amerika dan lembaga paten internasional PTO/WO tahun 2006. Teknologi ini diperkirakan akan mengubah drastis perkembangan riset dan teknologi di berbagai bidang dari energi, proses kimia, kedokteran hingga nano-teknologi.

Saat ini Warsito sedang membangun sebuah institusi riset swasta pertama di Indonesia untuk mengembangkan teknologi tomografi volumetric untuk berbagai aplikasi. Meskipun masih berskala kecil, institusi yang dibangunnya mempunyai reputasi tinggi di dunia dan telah mampu menjalin kerja sama riset dengan lembga riset dan universitas kelas dunia seperti Ohio State University (OH, AS), National Natural Scince Laboratory of Japan (RIKEN, Japan), Nanyang Technology University (Singapore) dan Universiti Kebangsaan Malaysia (Malaysia). Produk dari institusinya telah dipakai di berbagai institusi dunia termasuk Ohio State University (AS), Cambrige University (UK), B&W Company (OH, AS) dan Morgantown National Laboratory (Dept. of Energy, WA, AS).

Institusi yang dibangunnya juga telah menjadi standar bagi teknologi tomografi volumetric dan yang berkaitan yang dikembangkan di seluruh dunia dan dipublikasikan di dua jurnal internasional terkemuka yaitu Measurement Science and Technology (UK) dan IEE Sensors Journal (AS). Lembaga penelitian yang juga memberikan beasiswa dan bimbingan penelitian bagi mahasiswa Indonesia dari seluruh tanah air untuk menyelesaikan tugas akhir dengan pembinaan riset kelas dunia bekerja sama dengan lembaga-lembaga riset dunia yang terikat dalam kerjasama penelitian.

Di bidang keorganisasian, Warsito adalah salah satu pendiri dan ketua umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI). Selama menjabat sebagai ketua umum MITI sejak tahun 2005, Warsito telah membangun jaringan MITI di seluruh Indonesia dan luar negeri terutama MITI-Mahasiswa di kurang lebih 50 kampus di 26 Propinsi di seluruh Indonesia. Program utama yang dilancarkan MITI adalah meningkatkan kualitas akademis dan kemampuan riset mahasiswa Indonesia, serta membantu pengembangan SDM mahasiswa Indonesia melalui program pengiriman mahasiswa Indonesia untuk belajar ke luar negeri. Tahun 2007 MITI bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Riyadh berhasil mengirim mahasiswa untuk program belajar S2 dan S3 sebanyak 51 orang atas beasiswa dari pemerintah Saudi Arabia. Saat ini MITI juga sedang membangun kelompok-kelompok belajar dan riset bagi pelajar dan mahasiswa di seluruh pelosok tanah air untuk membudayakan riset ilmiah dan mendorong segera terwujudnya universitas riset di universitas-universitas seluruh Indonesia.

Selain di MITI, Warsito juga aktif sebagai anggota Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Partai Keadilan Sejahtera di Komisi Kebijakan Publik yang salah satunya bertanggung jawab langsung dalam merancang dan menyusun Flatform Pembangungan PKS Bidang Perekonomian. Ekonomi adalah bidang kedua yang digeluti Warsito sejak tahun 1994 secara otodidak. Pemikiran-pemikirannya tentang ekonomi, iptek dan pembangungan Indonesia biasa ditemui di http://myview-indonesia.blogspot.com.

Teknologi Dunia dari Pojok Ruko

tomografiIa menemukan teknologi tomografi yang membuat alat pemindai tubuh lebih murah dan amat akurat. Akan dipatenkan seperti enam penemuannya yang lain. Dari sebuah ruko sewaan di Tangerang, terciptalah teknologi berkelas dunia. Dr. Warsito, 39 tahun, sang penemu, berhasil menjungkirkan keyakinan bahwa teknologi canggih hanya bisa diciptakan di pusat riset maju. Temuan made in ruko itu telah membuat Warsito muncul di hampir semua jurnal ilmiah di dunia sepanjang Maret lalu.

Teknologi yang ditemukan pemegang enam dokumen paten ini adalah teknologi tomografi medan listrik tiga dimensi atau electrical capacitance volume tomography (ECVT). Inilah penolong para pasien miskin bila mereka harus mengecek kesehatan dengan pemindai tubuh.

Dengan ECVT, proses pemindaian tubuh bakal lebih murah dibanding CT Scan dan MRI. Caranya juga simpel. Tak perlu masuk tabung seperti pada MRI. Pasien cukup dilewatkan di pintu detektor. Akurasinya, jangan tanya. Sementara MRI menghasilkan gambar dua dimensi, citra tomografi ini tiga dimensi.

Soal resolusi gambar, sebentar lagi ketajaman MRI bakal tertinggal jauh. Warsito sedang menggodok patennya yang ketujuh, ECVT resolusi tinggi. Ia akan mengajukannya ke kantor paten dan merek dagang Amerika Serikat pada Januari mendatang.

Tak hanya pasien dan dokter yang akan terbantu dengan teknologi ini. Alat ini hadir untuk segala yang perlu dipindai, dari gas di dalam tabung, reaktor nuklir, hingga perut gunung api.

Alkisah, penemu CT Scan, A.M. Cormack dan G.N. Hounsfield, diganjar Nobel Bidang Fisiologi dan Kedokteran 1979. Pada 2003, Nobel bidang ini diberikan kepada penemu MRI, Paul C. Lauterbur dan Peter Mansfield. Warsitokah penerima Nobel berikutnya? Dia tersenyum kecil. Ucapnya, “Itu mimpi.”

Bukan tanpa alasan jika Warsito memilih menyiapkan ECVT di rukonya. “Saya minta hak eksklusif untuk bisa mengembangkannya tanpa terikat dengan Universitas Ohio,” katanya. Ia memang pernah intensif menggunakan laboratorium Ohio State University, AS, saat bekerja sebagai peneliti di sana sejak 1999.

Pilihan ruko ini penuh risiko. Suatu kali petir menghanguskan satu komputernya. Lalu, laptop dan sebuah komputer lainnya jebol karena tak tahan menjalankan simulasi tomografi. Seluruh dokumentasi risetnya lenyap. “Satu minggu saya shock, tidak keluar kamar,” ujarnya.

Ketidaktergantungan pada kampusnya membuat anak petani dari Solo ini dengan enteng menampik tawaran untuk memperpanjang kontrak pada Juli lalu. Ia bahkan bisa pulang membawa paten tomografinya. Kini ia sedang menyiapkan pusat riset dan tempat produksi tomograf tiga dimensinya di Tangerang, bekerja sama dengan investor dalam negeri. (Sumber : Tempo (Edisi. 44/XXXV/25 – 31 Desember 2006))

Dr. Warsito, Kamu pun Bisa!

Hari Ahad, 11 April PIP PKS Amerika dan Kanada mengundang Dr. Warsito dalam pertemuan resmi membahas tentang Pemberdayaan SDM Luar Negeri.

Dr. Warsito, staf khusus Menristek, menekankan akan pentingnya pemanfaatan SDM yang ada di luar negeri untuk mendukung pembangunan IPTEK di Indonesia. Dalam makalah yang disampaikannya, Dr. Warsito menyatakan bahwa jaringan ilmiah internasional adalah merupakan salah satu kunci penting keberhasilan inovasi teknologi. Dengan jaringan ilmiah tersebut kita menguatkan sumber daya manusia dan pemasaran produk ilmiah yang berupa teknologi itu sendiri.

Penemu teknologi pemindai (ECVT) 4 dimensi pertama di dunia ini menjelaskan bahwa kemampuan individu manusia Indonesia banyak yang menonjol, bahkan tidak kalah dengan negara lain. SDM yang berada di luar negeri mempunyai posisi yang strategis. Mereka harus dapat memanfaatkan keberadaannya untuk membangun bangsa Indonesia. Walaupun tidak sedikit kekurangan di tanah air, akan tetapi pemerintah Indonesia terus melakukan perbaikan-perbaikan demi kemajuan bangsa ini.

Peraih Achmad Bakrie Award 2009 di bidang teknologi, Dr. Warsito, menekankan bahwa sekarang pemerintah memberikan perhatian yang lebih serius kepada para peneliti dan UKM yang ingin mengembangkan inovasi yang dimilikinya, dengan memberikan bantuan dana segar bagi mereka yang ingin mengembangkan inovasi menjadi sebuah teknologi yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Dengan prinsip memberikan perhatian kepada kelompok kecil yang potensial lebih efektif dengan tingkat keberhasilan yang tinggi dibandingkan membangun industri dalam skala besar.

Diskusi yang dilakukan dengan sambungan telpon internasional ini memberikan angin segar bagi SDM bangsa Indonesia yang berada di Amerika dan Kanada untuk lebih cerah menatap ke depan demi kemajuan bangsa Indonesia. Ada beberapa peserta diskusi yang menjadi sadar dan tergugah bahwa posisi strategis yang dimilikinya adalah sebuah kesempatan yang besar yang perlu diwujudkan dalam bentuk yang bermanfaat bagi bangsanya.

Diskusi yang dipimpin oleh Muhammad Arif Budiman, pakar biotek Amerika yang juga mempunyai beberapa paten penting, berjalan kurang lebih sekitar dua jam. Diskusi berjalan sangat menarik, karena Dr. Warsito menampilkan juga pengalaman penting yang dimilikinya, bagaimana membangun perusahaan yang dipimpinnya menjadi perusahaan kelas dunia. Adalah tidak mudah untuk melakukan kerja sama dengan Departemen Energi Amerika, seperti yang dilakukan perusahaan yang dipimpinnya, Edwar Technology.

Pertemuan yang disiarkan langsung melalui radio internet ini, dihadiri juga para pakar teknologi putra Indonesia yang tinggal di Amerika, antara lain Rudi Himawan, pakar security yang sekarang menjadi tim leader di perusahaan penerbangan terbesar Amerika, American Air Lines.

Muhammad Yusuf Efendi
pr@pk-sejahtera.us
Cellphone : +1-415-717-9599

Jumat, 18 Februari 2011

Hati – hati dengan pikiran Anda

sumber TDW Club

Hati – hati dengan pikiran Anda dari banyak literatur buku barat yg membahas tentang kekayaan, ternyata seluruhnya mengerucut pada keyakinan bahwa RAHASIA KEKAYAAN adalah menguasai pikiran. Yang membedakan orang kaya dan miskin adalah mindsetnya, sebuah cara dia memandang kehidupnya.

Penelitian membuktikan dahsyatnya kekuatan pikiran. Kita berfikir 60.000 pikiran setiap hari, suka atau tidak, mau tdk mau, di kontrol atau tidak, ia tetap berfikir. Baik yg positif maupun yg negatif.

Uniknya setiap pikiran kita adalah DOA. KENAPA? karena ketika kita berfokus pada sesuatu, maka dia sedang menciptakan realitas yang akan mewujud dalam dunia nyata.

Nah, pertanyaannya mana yg lebih dominan kita pikirkan setiap hari, hal-hal yg positif kah, atau hal-hal yg negatif? karena hal itu akan menjadi realitas dan menjadi kenyataan. INGAT PIKIRAN KITA ADALAH DOA.

Apabila kita menyangka bahwa anda miskin, maka miskinlah kita. Ketika kita menyangka diri kita gagal maka gagal lah kita. Ketika kita menyangka kita tidak bisa maka kita akan menjadi pecundang.

REALITA HIDUP adalah proyeksi dari akal pikiran kita. Pikiran-pikiran kita terus mengeluarkan prasangkanya hingga menjadi realitas yg di sebut “NASIB”

Jika anda selama ini mendapati hidup anda susah, banyak rintangan, sering gagal, berbisnis sering bangkrut, di tipu orang, itu semua terjadi karena anda yang memintanya lewat Fikiran anda.

“Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu sendiri yg merubah apa yg ada pada dirinya” (QS. 13:11)

Saudara… Be a Positive THINKING and you will change your life

Salam Ikhlas,

Dani Mubarak


Rabu, 26 Januari 2011

Cara Terbaik agar Hidup Selalu Bahagia








Kebahagiaan adalah hak. Dan seperti semua hak, kitalah yang diharapkan datang menjemputnya.
Bersama semua hak, tentu ada tanggung jawabnya. Dan tanggung jawab bagi mereka yang dibahagiakan adalah membahagiakan yang lainnya.



Maka orang yang tidak ingin tertunda kebahagiaannya, harus mendahulukan tercapainya kebahagiaan orang lain, otomatis kita pun bahagia.

Marilah kita terima dengan ikhlas, bahwa kebahagiaan adalah masalah keputusan.
Hidup yang berbahagia adalah untaian dari keputusan-keputusan untuk berbahagia, dari satu waktu ke waktu lainnya.
Kita harus segera memutuskan untuk berbahagia, dan keputusan itu harus tegas. Karena keputusan yang berdampak baik adalah keputusan baik yang tegas.

Segera setelah kita putuskan untuk berbahagia, maka semua pikiran, perasaan, dan tindakan kita akan terfokus pada membahagiakan.

Tegaslah untuk memutuskan bahwa :

“Waktu terbaik untuk berbahagia adalah SEKARANG”.
“Tempat terbaik untuk berbahagia adalah DISINI”.
Dan
“cara terbaik untuk berbahagia adalah membahagiakan orang lain”.


Jika kita belum mampu merasa bahagia, marilah kita hidup dengan cara yang mejadikan kita pantas untuk berbahagia.

Perasaan kita ditentukan oleh apa yang kita kerjakan dan yang kita hindari.
Maka jangan hindari pikiran baik, jangan hindari perasaan yang baik, dan terutama jangan hindari tindakan yang baik.

Perlu diingat bahwa
“Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, akan lebih mudah merasa sedih dan tidak berguna”.

Oleh karena itu, berusahalah untuk menjadi sebab bagi kebahagiaan.

“Tujuan hidup kita adalah menjadi sebab bagi kebahagiaan, bagi diri sendiri dan bagi sebanyak mungkin orang lain”.


Marilah kita (saya dan Anda) hidup untuk membahagiakan sebanyak mungkin orang lain, maka otomatis (insyaAllah) kita akan dijauhkan dari kesedihan, dan kita akan dimudahkan untuk menjadi sangat bahagia.

Teori Bob Sadino

by Adri Noor

BATAM (BP) - Siapa yang tak kenal Bob Sadino? Ia enterpreneur sejati. Gayanya nyentrik, pola pikirnya unik dan cenderung terbalik. Keluar dari pakem teori dan buku teks ekonomi. Tapi, bisnisnya sukses. Pengusaha kawakan dengan ciri khasnya celana pendek dan kemeja itu, datang ke Batam berbagi pengalaman dan belajar goblok dengan pengusaha muda Batam. Apa maksudnya?PEBISNIS yang biasa baca buku marketing, manajemen, dan makan sekolahan, dibikin bingung Bob Sadino, pengusaha yang terkenal dengan Kem Chicks-nya ini. ’’Hidup saya tanpa rencana dan tanpa target. Buku-buku di sekolah sudah meracuni pikiran Anda. Padahal, informasi itu sudah basi dan jadi sampah. Sekolah menghasilkan orang untuk bekerja, tapi bukan memberi peluang kerja bagi orang lain,” katanya. Nah, bingung kan?

Lelaki yang sudah berbisnis selama 36 tahun dan biasa disapa Om Bob ini bercerita, ia berani keluar dari kemapanan bekerja di Jakarta Lyod, jadi pengangguran, jadi kuli bangunan dan supir taksi. Ia lalu berkirim surat ke teman-temannya di Belanda, agar dikirimi ayam petelur. Saat itu, orang tidak biasa mengkonsumsi telur. Jadilah ia peternak ayam broiler dan menjual telur ayam. ’’Sayalah orang pertama yang mengenalkan telur kepada bangsa ini,” katanya.

Namun, jalan hidup Bob tidak semudah membalik telapak tangan. Ia menjual telur ke tetangga. Telurnya tidak laku karena warga Kemang tak biasa makan telur yang besar-besar itu, tapi telur ayam kampung. Beruntung, beberapa bule menyukainya. Permintaan pun bertambah. Tidak hanya telur, merica, garam dan belakangan berkembang ke bisnis daging olahan seperti sosis.

Bob Sadino yang pertama kali mengenalkan menanam sayuran tanpa tanah alias hidroponik. Padahal, saat itu tidak pasarnya. Tapi, kegigihan seorang Bob Sadino, ia menciptakan pasarnya. Beberapa tahun kemudian, ia malah mengekspor terung ke Jepang. Bob mengaku, ia tidak pernah berencana mau jadi apa. ’’Rencananya hanya buat orang pinter, saya bersyukur saya goblok. Kalau saya pintar, saya akan seperti Anda,” katanya, disambut tawa peserta seminar di Hotel Godway, Rabu (16/5) malam.

Kalau pengusaha atau orang dagang cari untung, Bob Sadino mengaku mencari rugi. Lantaran goblok, ia tidak tidak hitung-hitungan dan membebani dirinya macam-macam. ’’Biasanya orang dagang cari untung dan rugi peluangnya sama saja. Jadi, kalau cari rugi, terus kalau untung waduh, bahagia banget,” ujarnya.

’’Silakan cari kegagalan, cari kendala Anda. Saya mengalami segunung kegagalan, kendala dan keringat dingin dan air mata darah. Tapi, saya belajar dari kegagalan dan mencari jalan keluarnya. Kegagalan adalah anugrah. Lalu, apa di balik kegagalan. Sukses adalah titik kecil di atas segunung kegagalan,” papar Bob yang membuat peserta seminar terpana.

Bob Sadino bahagia dengan apa yang dilakukannya. Ia berani mengambil risiko dan menciptakan pasar. ’’Saya mengambil risiko sebesar-besarnya, sebab orang yang mengambil risiko kecil, hasilnya juga kecil. Kalau orang memperkecil risiko, ia jadi bebas dong. Risiko bisa jadi apa saja. Kewajiban saya mengubah risiko jadi duit,” ujar Bob Sadino, dengan santainya.

Meski awalnya sulit dipahami, peserta seminar yang bingung dan tidak terima dikatai goblok, lama-lama bisa mencerna jalan pikiran nyeleneh Bob Sadino. Sebagai pengusaha sukses, ia sudah sampai pada tahap financial independent, sehingga ia bebas mau beli apa saja dan mau pergi ke mana saja. ’’Duitnya sih, pas-pasan. Kalau mau beli Jaguar, pas duitnya ada,” katanya, terkekeh.

Karena merasa dirinya goblok, Bob tidak berpikir secara runtun, tapi mengalir begitu saja. Orang goblok juga akan lebih percaya pada orang lain yang lebih pintar dari dirinya. Kalau gagal, orang goblok tidak merasa gagal, tapi sedang belajar jadi lebih pintar. Akhirnya, orang goblok bisa jadi bosnya orang pintar-pintar. Kini, Bob memiliki 1.600 karyawan yang dia sebut anak-anaknya.

Sementara, orang pintar menghitung sesuatu nyelimet dan usahanya nggak jalan-jalan, karena dibebani rencana yang belum tentu berhasil. Orang pintar juga tidak percaya orang lain sehingga semua dikerjakannya sendiri. Ia mencontohkan ketika salah seorang karyawannya menurunkan harga kangkung di supermarketnya dari semula harganya Rp6.000 menjadi Rp400 saja. Eh, ternyata malah tidak laku.

Selidik punya selidik, ternyata langganannya protes, kok harga kangkungnya murah, padahal biasanya mahal. ’’Akhirnya, harga kangkung itu saya naikkan lagi. Pelanggan saya bilang, kangkung yang saya jual rasanya lain. Mungkin karena mahal, sehingga setiap sendok kangkung yang masuk ke mulutnya diam-diam dihitungnya, Rp6.000, jadi dia nikmati. Lha, kalau begini, siapa sebenarnya yang goblok?” papar Bob terbahak-bahak.

Namun, bagi pembeli ada nilai psikologis yang membuat pembeli merasa berbeda jika mengkonsumsi kangkung mahal daripada kangkung murah. Ini bagian dari trik marketing. Ia pun berbagi tips, bahwa untuk menjadi seorang marketing yang baik, maka seseorang harus menjual dirinya sendiri (sale for your self), sebelum menjual produknya. Sebuah filosofi, bahwa bagaimana seseorang menjadi marketing yang baik, kalau ia sendiri tidak dikenal orang.

Di balik kekonyolannya, Bob Sadino memberikan beberapa resep menjadi pengusaha. Antara lain, berpikir bebas dan tanpa beban. Memiliki tekad dan keinginan yang kuat menjadi pengusaha, sebab kemauan adalah ibarat bensin dan motor, keberanian mengambil peluang, tahan banting dan bersyukur bisa berbuat untuk orang lain.

Bagi pengusaha Batam, Bob Sadino berpesan, jangan takut dan jangan terlalu berharap. Sebab, makin tinggi harapan, makin tinggi tingkat kekecewaan. ’’Lepaskan belenggu dalam pikiran Anda sendiri. Ada berjuta peluang di sekeliling Anda,” katanya.

Dalam berbisnis, juga jangan terlalu memikirkan sukses. Kalau terlalu banyak memikirkan sukses, kata Om Bob, bekerja pasti dalam tekanan, tidak rileks sehingga hasil kerja tidak akan bagus. ’’Santai saja, hilangkan semua beban, ingat sandaran itu tadi, kemauan, komitmen, keberanian mengambil peluang, pantang menyerah dan selalu belajar pada yang lebih pintar serta selalu bersyukur,” ujar Om Bob, mengingatkan.

Satu hal yang menarik, orang-orang yang ia gunakan dalam membantu usahanya, bukanlah mereka yang berasal dari kalangan berpendidikan tinggi, melainkan dari anak jalanan. Berawal dari satu anak jalanan, bertambah dua, tiga hingga saat ini mencapai 1.500 orang anak. Bob juga mengaku bukan orang yang berpendidikan tinggi. Ia hanya tamatan SMA. Ia tak pernah sekolah tinggi. Baginya, di sekolah orang membaca buku, buku sifatnya informasi yang telah terjadi yang tak ubahnya roti busuk alias sampah. Jadi, orang yang sekolah tinggi-tinggi, isinya hanya sampah. Terkecuali sampah itu diolah menjadi pupuk yang subur.

Bob Sadino juga tidak setuju dengan istilah Usaha Kecil Menengah (UKM) yang digembar-gemborkan pemerintah. Apa pasal? ’’Mestinya bukan UKM, tapi UBB atau Usaha Bakal Besar sehingga kita tetap optimis dan berusaha membesarkan bisnis kita,” katanya.

Tak terasa, dua jam berlalu bersama Bob Sadino. Namun, pertanyaan menggelitik soal penampilannya yang senang bercelana pendek, terlontar juga dari peserta seminar. Apa jawaban Bob? ’’Tidak penting celana pendeknya, yang penting, apa di balik celana pendek itu,” ujar Om Bob yang disambut gelak tawa.

Di balik sikap nyentrik dan nyeleneh Bob Sadino, ia berhasil membangun bisnisnya selama puluhan tahun. Dan, ia bisa duduk santai dengan beberapa presiden sambil ngobrol ngalor ngidul. Yang jelas, peserta seminar yang umumnya pelaku bisnis merasa mendapat pengalaman dan pencerahan yang luar biasa.

Sayangnya, nyaris tidak ada pengusaha kelas kakap yang tertarik bincang bisnis Bob Sadino yang disponsori Telkomsel itu. Mungkin khawatir dicap goblok. Jadi, mau pintar atau goblok ala Bob Sadino? Terserah Anda. 

Teori Bob Sadino

by Adri Noor

BATAM (BP) - Siapa yang tak kenal Bob Sadino? Ia enterpreneur sejati. Gayanya nyentrik, pola pikirnya unik dan cenderung terbalik. Keluar dari pakem teori dan buku teks ekonomi. Tapi, bisnisnya sukses. Pengusaha kawakan dengan ciri khasnya celana pendek dan kemeja itu, datang ke Batam berbagi pengalaman dan belajar goblok dengan pengusaha muda Batam. Apa maksudnya?PEBISNIS yang biasa baca buku marketing, manajemen, dan makan sekolahan, dibikin bingung Bob Sadino, pengusaha yang terkenal dengan Kem Chicks-nya ini. ’’Hidup saya tanpa rencana dan tanpa target. Buku-buku di sekolah sudah meracuni pikiran Anda. Padahal, informasi itu sudah basi dan jadi sampah. Sekolah menghasilkan orang untuk bekerja, tapi bukan memberi peluang kerja bagi orang lain,” katanya. Nah, bingung kan?

Lelaki yang sudah berbisnis selama 36 tahun dan biasa disapa Om Bob ini bercerita, ia berani keluar dari kemapanan bekerja di Jakarta Lyod, jadi pengangguran, jadi kuli bangunan dan supir taksi. Ia lalu berkirim surat ke teman-temannya di Belanda, agar dikirimi ayam petelur. Saat itu, orang tidak biasa mengkonsumsi telur. Jadilah ia peternak ayam broiler dan menjual telur ayam. ’’Sayalah orang pertama yang mengenalkan telur kepada bangsa ini,” katanya.

Namun, jalan hidup Bob tidak semudah membalik telapak tangan. Ia menjual telur ke tetangga. Telurnya tidak laku karena warga Kemang tak biasa makan telur yang besar-besar itu, tapi telur ayam kampung. Beruntung, beberapa bule menyukainya. Permintaan pun bertambah. Tidak hanya telur, merica, garam dan belakangan berkembang ke bisnis daging olahan seperti sosis.

Bob Sadino yang pertama kali mengenalkan menanam sayuran tanpa tanah alias hidroponik. Padahal, saat itu tidak pasarnya. Tapi, kegigihan seorang Bob Sadino, ia menciptakan pasarnya. Beberapa tahun kemudian, ia malah mengekspor terung ke Jepang. Bob mengaku, ia tidak pernah berencana mau jadi apa. ’’Rencananya hanya buat orang pinter, saya bersyukur saya goblok. Kalau saya pintar, saya akan seperti Anda,” katanya, disambut tawa peserta seminar di Hotel Godway, Rabu (16/5) malam.

Kalau pengusaha atau orang dagang cari untung, Bob Sadino mengaku mencari rugi. Lantaran goblok, ia tidak tidak hitung-hitungan dan membebani dirinya macam-macam. ’’Biasanya orang dagang cari untung dan rugi peluangnya sama saja. Jadi, kalau cari rugi, terus kalau untung waduh, bahagia banget,” ujarnya.

’’Silakan cari kegagalan, cari kendala Anda. Saya mengalami segunung kegagalan, kendala dan keringat dingin dan air mata darah. Tapi, saya belajar dari kegagalan dan mencari jalan keluarnya. Kegagalan adalah anugrah. Lalu, apa di balik kegagalan. Sukses adalah titik kecil di atas segunung kegagalan,” papar Bob yang membuat peserta seminar terpana.

Bob Sadino bahagia dengan apa yang dilakukannya. Ia berani mengambil risiko dan menciptakan pasar. ’’Saya mengambil risiko sebesar-besarnya, sebab orang yang mengambil risiko kecil, hasilnya juga kecil. Kalau orang memperkecil risiko, ia jadi bebas dong. Risiko bisa jadi apa saja. Kewajiban saya mengubah risiko jadi duit,” ujar Bob Sadino, dengan santainya.

Meski awalnya sulit dipahami, peserta seminar yang bingung dan tidak terima dikatai goblok, lama-lama bisa mencerna jalan pikiran nyeleneh Bob Sadino. Sebagai pengusaha sukses, ia sudah sampai pada tahap financial independent, sehingga ia bebas mau beli apa saja dan mau pergi ke mana saja. ’’Duitnya sih, pas-pasan. Kalau mau beli Jaguar, pas duitnya ada,” katanya, terkekeh.

Karena merasa dirinya goblok, Bob tidak berpikir secara runtun, tapi mengalir begitu saja. Orang goblok juga akan lebih percaya pada orang lain yang lebih pintar dari dirinya. Kalau gagal, orang goblok tidak merasa gagal, tapi sedang belajar jadi lebih pintar. Akhirnya, orang goblok bisa jadi bosnya orang pintar-pintar. Kini, Bob memiliki 1.600 karyawan yang dia sebut anak-anaknya.

Sementara, orang pintar menghitung sesuatu nyelimet dan usahanya nggak jalan-jalan, karena dibebani rencana yang belum tentu berhasil. Orang pintar juga tidak percaya orang lain sehingga semua dikerjakannya sendiri. Ia mencontohkan ketika salah seorang karyawannya menurunkan harga kangkung di supermarketnya dari semula harganya Rp6.000 menjadi Rp400 saja. Eh, ternyata malah tidak laku.

Selidik punya selidik, ternyata langganannya protes, kok harga kangkungnya murah, padahal biasanya mahal. ’’Akhirnya, harga kangkung itu saya naikkan lagi. Pelanggan saya bilang, kangkung yang saya jual rasanya lain. Mungkin karena mahal, sehingga setiap sendok kangkung yang masuk ke mulutnya diam-diam dihitungnya, Rp6.000, jadi dia nikmati. Lha, kalau begini, siapa sebenarnya yang goblok?” papar Bob terbahak-bahak.

Namun, bagi pembeli ada nilai psikologis yang membuat pembeli merasa berbeda jika mengkonsumsi kangkung mahal daripada kangkung murah. Ini bagian dari trik marketing. Ia pun berbagi tips, bahwa untuk menjadi seorang marketing yang baik, maka seseorang harus menjual dirinya sendiri (sale for your self), sebelum menjual produknya. Sebuah filosofi, bahwa bagaimana seseorang menjadi marketing yang baik, kalau ia sendiri tidak dikenal orang.

Di balik kekonyolannya, Bob Sadino memberikan beberapa resep menjadi pengusaha. Antara lain, berpikir bebas dan tanpa beban. Memiliki tekad dan keinginan yang kuat menjadi pengusaha, sebab kemauan adalah ibarat bensin dan motor, keberanian mengambil peluang, tahan banting dan bersyukur bisa berbuat untuk orang lain.

Bagi pengusaha Batam, Bob Sadino berpesan, jangan takut dan jangan terlalu berharap. Sebab, makin tinggi harapan, makin tinggi tingkat kekecewaan. ’’Lepaskan belenggu dalam pikiran Anda sendiri. Ada berjuta peluang di sekeliling Anda,” katanya.

Dalam berbisnis, juga jangan terlalu memikirkan sukses. Kalau terlalu banyak memikirkan sukses, kata Om Bob, bekerja pasti dalam tekanan, tidak rileks sehingga hasil kerja tidak akan bagus. ’’Santai saja, hilangkan semua beban, ingat sandaran itu tadi, kemauan, komitmen, keberanian mengambil peluang, pantang menyerah dan selalu belajar pada yang lebih pintar serta selalu bersyukur,” ujar Om Bob, mengingatkan.

Satu hal yang menarik, orang-orang yang ia gunakan dalam membantu usahanya, bukanlah mereka yang berasal dari kalangan berpendidikan tinggi, melainkan dari anak jalanan. Berawal dari satu anak jalanan, bertambah dua, tiga hingga saat ini mencapai 1.500 orang anak. Bob juga mengaku bukan orang yang berpendidikan tinggi. Ia hanya tamatan SMA. Ia tak pernah sekolah tinggi. Baginya, di sekolah orang membaca buku, buku sifatnya informasi yang telah terjadi yang tak ubahnya roti busuk alias sampah. Jadi, orang yang sekolah tinggi-tinggi, isinya hanya sampah. Terkecuali sampah itu diolah menjadi pupuk yang subur.

Bob Sadino juga tidak setuju dengan istilah Usaha Kecil Menengah (UKM) yang digembar-gemborkan pemerintah. Apa pasal? ’’Mestinya bukan UKM, tapi UBB atau Usaha Bakal Besar sehingga kita tetap optimis dan berusaha membesarkan bisnis kita,” katanya.

Tak terasa, dua jam berlalu bersama Bob Sadino. Namun, pertanyaan menggelitik soal penampilannya yang senang bercelana pendek, terlontar juga dari peserta seminar. Apa jawaban Bob? ’’Tidak penting celana pendeknya, yang penting, apa di balik celana pendek itu,” ujar Om Bob yang disambut gelak tawa.

Di balik sikap nyentrik dan nyeleneh Bob Sadino, ia berhasil membangun bisnisnya selama puluhan tahun. Dan, ia bisa duduk santai dengan beberapa presiden sambil ngobrol ngalor ngidul. Yang jelas, peserta seminar yang umumnya pelaku bisnis merasa mendapat pengalaman dan pencerahan yang luar biasa.

Sayangnya, nyaris tidak ada pengusaha kelas kakap yang tertarik bincang bisnis Bob Sadino yang disponsori Telkomsel itu. Mungkin khawatir dicap goblok. Jadi, mau pintar atau goblok ala Bob Sadino? Terserah Anda.