Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Desember 2010

AMANAH ORANGTUA TERHADAP ANAK

Artinya: Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka

mengucapkan perkataan yang benar (Q.S. An Nisaa’ : 9)

Diantara amanah terbesar yang Allah swt. berikan, ialah anak –anak yang ada pada keluarga kita masing-masing. Dalam pandangan Islam, anak bukan hanya sebagai karunia dan nikmat, yang dapat memberi kebahagiaan dan kesejukan hati untuk kedua orang tuanya, namun anak juga merupakan amanah/titipan dari Allah swt. yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

Setiap orang tua memiliki tanggung jawab yang besar terhadap anak-anaknya, bukan hanya harus memenuhi segala kebutuan dasar (pokok) materi mereka, tetapi juga menyangkut masalah kesehatan, pendidikan, penerapan nilai-nilai keagamaan,. serta memberikan contoh keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Anak adalah rezeki dari Allah swt. untuk kedua orang tuanya. Seti ap anak yang lahir ke dunia ini sudah disiapkan rezekinya oleh Allah swt.Mulai dari dalam kandungan (rahim), Allah swt. memberikan makanan dan minuman melalui tali plasenta ibunya, setelah mereka lahir, Allah swt. sudah siapkan dengan ASI (air susu ibu) yang sehat, higinis dan memiliki daya imun yang kuat terhadap virus-virus yang masuk ke dalam tubuhnya. Setelah anak-anak sudah memulai memakan makanan selain ASI, maka Allah swt.pun menumbuhkan gigi-gigi mereka, agar dapat mengunyah makanan dengan lembut dan mudah dicerna oleh usus-usus dalam perutnya.

Oleh karenanya, wahai orang tua yang budiman, janganlah takut menjadi miskin, jika kita diberi anak oleh Allah swt., karena pasti Allah swt. akan menyertainya dengan rezeki yang berkah. Jika diibaratkan, ketika kita titip sepeda motor di tempat penitipan, saat kita hendak melanjutkan perja- lanan ke tempat bekerja, atau di pasar-pasar, maka kita akan memberikan uang titipan motor kepada orang yang menjaganya. Maka demikian pula halnya dengan anak yang Allah swt. titipkan, pasti Allah swt. akan mem bayar / memberi rezeki kepada kita, sebagai orang tua yang menjaganya, asalkan kita selalu berikhtiar/berusaha dan berdo’a kepada-Nya.

Jika kita perhatikan firman Allah swt. pada surat An Nisaa’ ayat 9 di atas, ada 3 hal yang harus diperhatikan oleh para orang tua, yaitu:

1. Tidak meninggalkan generasi yang lemah

Suatu hal yang ditakutkan oleh Allah swt. terhadap orang tua, ialah apabila mereka memiliki anak-anak yang lemah, yang nantinya akan ber- pengaruh terhadap kesejahteraan hidupnya. Lemah yang dimaksud disini dapat berupa lemah iman, lemah akhlaq dan moral, lemah ekonomi, lemah fisik/jasmani serta lemah ilmu pengetahuan dan teknologi. Agar hal ini tidak terjadi, maka orang tua hendaknya lebih memperhatikan pendidikan mereka, baik pendidikan di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sekitar. Karena dengan pendidikan yang baik, berkualitas dan memiliki muatan agamis, se- mua kekhawatiran yang ditakutkan dapat dihindari.

Terlebih lagi, pendidikan agama bagi mereka. Sejak usia dini perkenalkan anak-anak kita kepada agama Islam, ajak mereka shalat berjama’ah ke masjid, biasakan membaca Al Quran bersama di rumah, serta berikan me- reka keteladanan /uswah yang terbaik. Hendaknya kita memasukkan anak-anak kita ke tempat-tempat pengkajian Alquran (TPA), dan jika mereka sudah berusia remaja dan dewasa hendaknya diikut sertakan dalam kegiatan- kegiatan keagamaan di sekolah-sekolah (melalui ROHIS), dimasjid-masjid dan mushalla. Karena kalau kita menginginkan memiliki anak-anak yang saleh dan salehah, hanya dengan mengandalkan 2 jam pelajaran agama dalam seminggu di sekolah-sekolah umum, maka hal ini akan jauh dari harapan.

Perhatikan firman Allah swt. dalam surat At Tahrim ayat 6 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”

2. Perintah untuk bertakwa

Setelah kita diingatkan oleh Allah swt. untuk selalu memperhatikan anak-anak agar jangan sampai mereka menjadi generasi yang lemah, maka Allah swt. kembali mengingatkan kita untuk selalu bertakwa kepada-Nya.

Kenapa harus bertakwa ? Karena takwa merupakan kunci kesuksesan hidup seorang muslim disisi Allah swt. Jika dikaitkan dengan surat An-Nisaa’ ayat9 di atas, takwa di sini mengandung dua pengertian. Pertama, bahwa jangan sampai untuk mementingkan kesejahteraan anak-anak, dan dalam mencari rezeki kita menggunakan segala cara, termasuk cara yang diharamkan oleh Allah swt.

Kedua, tugas dan kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya meru- pakan hal yang sangat berat, sehingga kita membutuhkan pertolongan dan kemudahan. Dan ternyata kemudahan dan pertolongan yang kita cari terse- but, terdapat pada ketakwaan yang kita miliki. Semakin kita dekat dan bertakwa kepada Allah, maka pertolongan-Nya akan cepat datang. Namun semakin jauh dan berkurang ketakwaan kita kepada-Nya, maka pertolongan Allah pun akan lambat datang kepada kita. Bukankah Allah swt. telah berjanji dalam Alquran, bahwa “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah nis- caya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberi rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”?

(Q.S. Ath-Thalaq : 2-4). Janji Allah swt. ini pasti mutlak kebenarannya.

Kalau sekiranya selama ini belum terwujud, maka kita hendaknya berintros peksi diri, mungkin kita belum sebenar-benarnya bertakwa kepada Allah.

3. Mengucapkan perkataan yang benar

Dalam usaha membentuk generasi yang saleh dan salehah, faktor dominan yang harus nampak ialah faktor keteladanan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Baik itu dari kedua orang tuanya, kakak atau adik, tetangga, juga teman sepermainan di rumah dan di sekolah.

Sering terjadi di sekitar kita, ada anak-anak kecil yang mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak baik dan sopan. Hal ini terjadi karena mereka suka mendengar dari orang-orang dewasa yang ada di lingkungan mereka, bahkan terkadang mereka mendengar dari mulut orang tua mereka sendiri. Oleh karena itu, sebagai orang tua hendaknya kita berhati-hati dalam berbicara. Mari selalu mengucapkan perkataan yang benar, yaitu perkataan yang mengandung manfaat kebajikan, perkataan yang tidak menyakiti hati dan perasaan orang lain, serta perkataan yang mengandung ajakan da’wah atau tausiyah mengajak orang lain melakukan kebenaran dan menghiasi diri dengan kesabaran. Sekali lagi anak adalah amanah. Bagi orang tua, anak adalah permata hati yang tidak ternilai harganya. Dalam bahasa agama, anak adalah qurrata a`yuun, penyedap mata, dan tentunya penenteram jiwa buat kedua orang tuanya. Merupakan kebahagian tersendiri bagi orang tua yang memiliki anak saleh dan taat padanya.

Jumat, 10 Desember 2010

Terimakasih, Cinta

Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada November 12, 2007

Oleh : Helvy Tiana Rosa

baitijannati. Keluarga kami terbiasa saling mendoakan, memberi ucapan selamat dan kado bila ada yang berulang tahun atau sedang merayakan hari bahagia. Di luar itu sering juga saling memberikan sesuatu secara tiba-tiba, tak peduli hari apa pun itu kiranya.

Saya mempunya kebiasaan mengoleksi semua kartu ucapan yang pernah diberikan suami saya: Mas Tomi, untuk saya. Sebagian besar kartu itu merupakan kartu ucapan selamat ulang tahun, kartu ulang tahun pernikahan dan kartu ucapan selamat atas kesuksesan yang diraih.


Di antara semua kartu yang saya simpan, ada satu ucapan manis yang justru tidak ditulis di selembar kartu cantik, melainkan di atas kertas putih biasa. Tapi di antara semua, itulah ucapan dari Mas yang selalu menjadi ‘kartu’ kebanggaan saya.


Bagi saya, dalam kehidupan rumah tangga kami, ridha suami sangat penting. Dan luar biasa bahwa saya mendapatkan ridhanya selalu dalam setiap langkah saya! Padahal langkah-langkah itu menurut banyak kalangan “terlalu panjang” dan kadang “jauh” dari rumah. Lalu saya berpikir, berapa banyak suami di dunia ini yang seridha Mas terhadap istrinya?


“Selama di jalanNya, untukNya dan karenaNya…,” kata Mas Tomi pasti. “Tapi harus bisa bagi waktu ya…,” senyumnya lagi.


Bagi Mas, yang penting saya tak egois. Saya harus berbuat yang terbaik untuk keluarga. Tapi itu tak cukup. Sebisa mungkin, sekecil apa pun, saya harus terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Dan di atas segalanya tentu saja: menjadi abdi illahi sejati! Dan bukankah itu semua satu paket bernama: hablu minallah, hablu minannaas?


Hari ini, sehari sesudah ulangtahun saya ke 35, saya buka lagi kartu-kartu ucapan dari Mas. Tapi yang satu itu, yang tidak tertulis dalam kartu…tak mungkin saya lupakan. Sebab itu adalah salah satu “ijazah” penting saya, yang dikeluarkan oleh Mas Tomi:


00.50 Wib, 2 April


Istriku sayang,
Selamat ulang tahun
Semoga Allah selalu ridho padamu


You have been a great wife for me
A great mother for Faiz
A good sister for Bhimo, Menuk, Kiki
And a sweet daughter for my mother


I owe you so much
For your love, caring
And compassion


Happy Birthday,
My beautiful lady
May I be your good husband
Always


Yours forever
,

Satryatomo


Dan tanpa bisa saya tahan, selalu saja air mata saya menitik usai membacanya kembali.


Mas, mungkin belum ada hal yang sungguh berarti, yang pernah kulakukan, apalagi untukmu. Tapi “ijazah” ini, ridha Mas ini, menjadi salah satu yang sangat berarti dalam kehidupanku. Sesuatu yang membuatku semangat senantiasa untuk melangkah….

Terimakasih, cinta…


(Helvy Tiana Rosa)

Sebelas Kiat Menata Keluarga Islami


karikatur_familiBagaimanakah wujud keluarga Islami itu? Bayangan anda tentang suami isteri yang bertingkah laku bagai malaikat serta rahmat Allah yang senantiasa melimpahi kebutuhan hidup mereka tentu bukanlah gambaran yang benar. Ajaran Islam sendiri merupakan ajaran yang dirancang bagi manusia yang memiliki berbagai kelemahan dan kekurangan dan siap diterapkan dalam berbagai keadaan yang menyertai hidup manusia.

Jadi, jika anda menemui goncangan-goncangan yang menyangkut diri anda dalam masalah pribadi, hubungan dengan suami atau isteri dan anak-anak, atau dalam berbagai kondisi yang menyertai keluarga, janganlah anda panik dulu atau merasa dunia hampir kiamat. Sebab, justru dalam momen seperti itulah anda dapat memperlihatkan komitmen sebagai seseorang sebelum dibuktikannya melalui amal kehidupan.

Ada beberapa hal yang patut anda perhatikan dalam upaya menumbuhkan keluarga bahagia menurut ajaran Islam atau dalam menghadapi berbagai persoalan, diantaranya;

1. Fikrah yang jelas
Pemikiran Islami tentang tujuan-tujuan dakwah dan kehidupan keluarga merupakan unsur pentng dalam perkawinan. Ini adalah syarat utama.Keluarga islami bukanlah keluarga yang tenang tanpa gejolak. Bukan pula keluarga yang berjalan di atas ketidakjelasan tujuan sehingga melahirkan kebahagiaan semu. Kalaulah Umar bin Khattab menggebah para pedagang di pasar yang tidak memahami fiqih (perdagangan), maka layak dipandang sebagai sebuah kekeliruan besar seseorang yang menikah namun tak memahami dengan jelas apa hakekat pernikahan dalam Islam dan bagaimana kaitannya dengan kemajuan dakwah.

2. Penyatuan idealisme
Ketika ijab qobul dikumandangkan di depan wali, sebenarnya yang bersatu bukanlah sekedar jasad dua makhluk yang berlainan jenis. Pada detik itu sesungguhnya tengah terjadi pertemuan dua pemikiran, perjumpaan dua tujuan hidup dan perkawinan dua pribadi dengan tingkat keimanan masing-masing. Karena itu, penyatuan pemikiran dan idealisme akan menyempurnakan pertemuan fisik kedua insan.

3. Mengenal karakter pribadi
Kepribadian manusia ditentukan oleh berbagai unsur lingkungan: nilai yang diyakini dan pengaruh sosialisasi perilaku lingkungan terdekat serta lingkungan internal (sifat bawaan) itu sendiri. Mengenal secara jelas karakter pasangan hidup adalah bekal utama dalam upaya penyesuaian, penyeimbangan dan bahkan perbaikan. Satu catatan penting mengenai hal ini ialah anda harus menyediakan kesabaran selama proses pengenalan itu berlangsung, sebab hal itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

4. Pemeliharaan kasih sayang
Sikap rahmah (kasih sayang) kepada pasangan hidup dan anak-anak merupakan tulang punggung kelangsungan keharmonisan keluarga. Rasulullah SAW menyapa Aisyah dengan panggilan yang memanjakan, dengan gelar yang menyenangkan hati. Bahkan beliau membolehkan seseorang berdiplomasi kepada pasangan hidupnya dalam rangka membangun kasih sayang. Suami atau isteri harus mampu menampilkan sosok diri dan pribadi yang dapat menumbuhkan rasa tenteram, senang kerinduan. Ingat, di atas rasa kasih sayanglah pasangan hidup dapat membagi beban, meredam kemelut dan mengurangi rasa lapar.

5. Kontinuitas tarbiyah
Tarbiyah (pendidikan) merupakan kebutuhan asasi setiap manusia. Para suami yang telah aktif dalam medan dakwah biasanya akan mudah mendapatkan hal ini. Namun, isteri juga memiliki hak yang sama. Penyelenggaraannya merupakan tanggung jawab suami khususnya, kaum lelaki muslim umumnya. Itulah sebabnya Rasulullah SAW meluluskan permintaan ta’lim (pengajaran) para wanita muslimah yang datang kepada beliau. Beliau memberikan kesempatan khusus bagi pembinaan wanita dan kaum ibu (ummahaat). Perbedaan perlakuan tarbiyah antara suami dan isteri akan membuat timpang pasangan itu dan akibatnya tentu kegoncangan rumah tangga.

6 Penataan ekonomi
Turunnya Surat al Ahzab yang berkaitan dengan ultimatum Allah SWT kepada para isteri Nabi SAW, erat kaitannya dengan persoalan ekonomi. Islam dengan tegas telah melimpahkan tanggung jawab nafkah kepada suami, tanpa melarang isteri membantu beban ekonomi suami jika kesempatan dan peluang memang ada, dan tentu selama masih berada dalam batas-batas syari’ah. Ditengah-tengah tanggung jawab dakwahnya, suami harus bekerja keras agar dapat memberikan pelayanan fisik kepada keluarga. Sedangkan qanaah (bersyukur atas seberapa pun hasil yang diperoleh) adalah sikap yang patut ditampilkan isteri. Persoalan-persoalan teknis yang menyangkut pengelolaan ekonomi keluarga dapat dimusyawarahkan dan dibuat kesepakatan antara suami dan isteri. Kebahagiaan dan ketenangan akan lahir jika di atas kesepakatan tersebut dibangun sikap amanah (benar dan jujur).

7. Sikap kekeluargaan
Pernikahan antara dua anak manusia sebenarnya diiringi dengan pernikahan ”antara dua keluarga besar”, dari pihak isteri dan juga suami. Selayaknyalah, dalam batas-batas yang diizinkan syari’at, sebuah pernikahan tidak menghancurkan struktur serta suasana keluarga. Pernikahan janganlah membuat suami atau isteri kehilangan perhatian pada keluarganya (ayah, ibu, adik, kakak dan seterusnya). Menurunnya frekuensi interaksi fisik (dan ini wajar) tidak boleh berarti menurun pula perhatian dan kasih sayang. Sebaliknya, perlu ditegaskan juga bahwa pernikahan adalah sebuah lembaga legal (syar’i) yang harus dihormat keberadaannya. Sebuah kesalahan serius terjadi tatkala seorang isteri atau suami menghabiskan perhatiannya hanya untuk keluarganya msing-masing sehingga tanggung jawabnya sebagai pasangan keluarga di rumahnya sendiri terbengkalai.

8. Pembagian beban
Meski ajaran Islam membeberkan dengan jelas fungsi dan tugas elemen keluarga (suami, isteri, anak, pembantu) namun dalam pelaksanaannya tidaklah kaku. Jika Rasulullah SAW menyatakan bahwa seorang isteri adalah pemimpin bagi rumah dan anak-anak, bukan berarti seorang suami tidak perlu terlibat dalam pengurusan rumah dan anak-anak. Ajaran Islam tentang keluarga adalah sebuah pedoman umum baku yang merupakan titik pangkal segala pemikiran tentang keluarga. Dalam tindakan sehari-hari, nilai-nilai lain, misalnya tentang itsar (memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain), ta’awun (tolong menolong), rahim (kasih sayang) dan lainnya juga harus berperan. Itu dapat dijumpai dalam riwayat yang sahih betapa Nabi SAW bercengkrama dengan anak dan cucu, menyapu rumah, menjahit baju yang koyak dan lain-lain.

9. Penyegaran
Manusia bukanlah robot-robot logam yang mati. Manusia mempunyai hati dan otak yang dapat mengalami kelelahan dan kejenuhan. Nabi SAW mengeritik seseorang yang menamatkan Al Quran kurang dari tiga hari, yang menghabiskan waktu malamnya hanya dengan shalat, dan yang berpuasa setiap hari. Dalam ta’lim beliau SAW juga memberikan selang waktu (dalam beberapa riwayat per pekan), tidak setiap saat atau setiap hari. Variasi aktivitas dibutuhkan manusia agar jiwanya tetap segar. Dengan demikian, keluarga yang bahagia tdak akan tumbuh dari kemonotonan aktivitas keluarga. Di samping tarbiyah, keluarga membutuhkan rekreasi (perjalanan, diskusi-diskusi ringan, kemah, dll).

10. Menata diri
Allah SWT mengisyaratkan hubungan yang erat antara ketaqwaan dan yusran (kemudahan), makhrojan (jalan keluar). Faktor kefasikan atau rendahnya iman identik dengan kesukaran, kemelut dan jalan buntu. Patutlah pasangan muslim senantiasa menata dirinya masing-masing agar jalan panjang kehidupan rumah tangganya dapat diarungi tanpa hambatan dan rintangan yang menghancurkan.

11. Mengharapkan rahmat Allah
Ketenangan dan kasih sayang dalam keluarga merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-hambaNya yang Salih. Rintangan-rintangan menuju keadaan itu datang tidak saja dari faktor internal manusia, namun juga dapat muncul dari faktor eksternal termasuk gangguan syaitan dan jin. Karena itu, hubungan vertikal dengan al Khaliq harus dijaga sebaik mungkin melalui ibadah dan doa. Nabi SAW banyak mengajarkan doa-doa yang berkaitan dengan masalah keluarga.

Wallahu a’lamu.

Sumber : Islah, No.4/Th II